Jumat, 01 Mei 2009

Apel Batu


Petani apel di Kota Batu menghadapi ancaman rusaknya tanaman mereka akibat hujan yang terus mengguyur. Separuh lebih dari 2.100 hektare lahan apel diperkirakan gagal panen. "Hujan menjadi media yang efektif bagi virus penyakit tepung tutul dan jamur," kata Darmanto, Sekretaris Kelompok Tani Bumijaya II, Kecamatan Bumiaji, kepada Tempo kemarin.
Menurut dia, serangan hama menyebabkan apel yang siap panen terancam rusak. Sedangkan apel yang mengalami penyerbukan terancam gagal menjadi buah. Hujan juga meningkatkan unsur natrium dalam tanah yang mengakibatkan tanaman apel berusia tua cepat rontok.
Meski menambah beban biaya produksi 40 hingga 50 persen, petani terpaksa tekun menyemprotkan pembasmi hama. Harga pupuk pun melejit. Mereka harus berutang lebih dulu untuk mendapatkan pupuk dan obat-obatan.
Biaya produksi belum tentu sepadan dengan hasil penjualan. Di tingkat petani, apel dihargai Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kilogram. Idealnya, Rp 4.000 sampai Rp 6.000 per kilogram.
Kecamatan Bumiaji merupakan sentra penghasil utama apel di Batu. Di sini terdapat delapan kelompok tani, yang beranggotakan 40 sampai 80 orang per kelompok. Saat ini tiap hektare menghasilkan 15 hingga 30 ton apel dari produksi normal 40 ton.
Para petani tanaman bunga mengalami hal serupa. Subagyo, Ketua Paguyuban Pedagang Bunga Kota Batu, menjelaskan, hujan deras menggagalkan penyerbukan karena putik bunga mudah jatuh. Dibutuhkan sekitar dua bulan lagi agar tanaman kembali berbunga. Akibatnya, biaya produksi meningkat hingga 50 persen.
"Obat penahan rontok bunga per liternya Rp 150 ribu. Belum lagi obat-obatan yang lain. Itu belum termasuk ongkos buruh semprot Rp 15 ribu per orang," katanya. Setiap hektare membutuhkan sedikitnya sepuluh tukang semprot.
Kecemasan serupa dialami petani apel di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Dwi Sucipto, salah seorang petani apel, mengatakan, oleh selain hujan, tanaman apel terganggu siraman debu gunung Semeru. "Solusinya, rajin-rajinlah menyemprot meski biaya produksi meningkat," ucapnya.
Namun, secara umum, nasib petani apel di Poncokusumo masih lebih baik dibandingkan dengan petani apel di Batu. Pamor apel Poncokusumo memang sempat merosot, tapi kini kondisinya lebih baik. Dari sekitar 1.500 hektare tanaman apel di seluruh Kecamatan Poncokusumo, sekitar 40 persen atau sekitar 584 hektare terhampar di Desa Poncokusumo, yang melibatkan 1.860 buruh tani apel dari Poncokusumo ditambah 1.350 orang dari luar Poncokusumo.
Dari seluruh luas tanaman apel, sekitar 60 hektare di antaranya sudah menerapkan metode penanaman yang lebih maju lewat Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu dan Sekolah Lapangan Good Agricultural Practices. "Kami juga sempat mendapat kucuran dana APBD dan APBN beberapa tahun lalu," kata Sucipto. ABDI PURMONO

0 komentar:

  © Free Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP